DOWNLOAD BUKU

Motivasi Hari Ini

"Nikmat sehat akan terasa jika kita pernah sakit. Nikmat harta akan terasa jika kita pernah susah, dan nikmat hidup akan terasa jika kita pernah mendapatkan musibah. Musibah adalah awal dari kenikmatan hidup... Bahagianya hidup dengan manisnya iman dan menjadikan allah sebagai tujuan hidup."

"Hidup juga perjuangan. Setiap kita akan dinilai dari apa yang telah kita perjuangkan.. Apa yang sudah kita perjuangkan selama ini?."

Program Level

1| 2| 3| 4| 5| 6|

Tugas Online

Link Pendidikan

Pengunjung

8063
Visit Today : 8
Visit Yesterday : 50
Total Visit : 8063
Who's Online : 1

Para Bintang yang Bersujud

web1

Bulan Desember adalah moment penerimaan rapotan.  Selamat pada orang tua yang telah mengambil rapot anaknya. Apapun hasilnya, itulah usaha terbaik anak. Semuanya harus bersyukur. Kenapa? Sebelum mengatakan sepakat atau tidak, perkenankan penulis mengulas kembali tentang anugerah terindah itu.

Melihat beberapa kegiatan pembelajaran di sekolah makin meneguhkan bahwa semua anak adalah bintang. Suatu kali penulis mengamati entrepeneurship day. Siswa membawa beragam panganan dari rumah untuk dijual ke adik atau kakak kelas. Sekolah hanya menyediakan meja sebagai lapaknya.

Terlihat ada anak yang sangat pandai menata dagangan. Dihiasi dengan label barang harga, dan tulisan iklan ajakan membeli. Anak yang lain begitu lihai menawarkan dan membujuk calon pembeli dengan bahasa komunikatif dan persuasif. Ada anak juga yang begitu cekatan menghitung harga barang dan uang kembalian. Dan, menarik lagi ada anak yang karena masih banyak tersisa dagangannya, tanpa pikir panjang ia bagikan ke teman.

Apakah anak-anak itu tidak cerdas ? Semua cerdas dan berbakat. Ada yang cerdas secara matematik, cerdas visual spasial, cerdas lingulistik, cerdas dari sisi sosial.

Kecerdasan sejatinya multidimensi dan banyak sisi. Einstein mengatakan adalah sebuah kesalahan jika kita menilai seekor ikan dari kemampuannnya memanjat sebatang pohon, karena dia akan berpikir dirinya bodoh di sepanjang hidupnya.

Bahkan anak berkebutuhan khusus, tentu ada kelebihannya. Gebyar Inklusi Banyumas beberapa waktu lalu yang menampilkan unjuk kerja dan hasil karya mereka menjadi pembuktian. Keunggulan mereka bukan di IQ atau menjadi pemikir yang membutuhkan analisis rumit, tetapi energinya dialihkan dalam bentuk kemerduan suara, keahlian teknis, ketekunan, konsistensi.  Tidak ada produk Tuhan yang gagal. Anak adalah masterpiece-Nya. Robbana maa kholaqta hadzaa baatila.

Membaca Petunjuk

Dari suatu aktivitas belajar atau bermain, ada petunjuk-petunjuk yang dapat kita baca dan endus terkait kecerdasan, minat dan bakat anak. Imam Al Ghazali mengatakan anak kita laksana permata. Hanya saja kadang kita belum bisa menemukan mutiara pada anak kita.

Dalam sebuah obrolan, orang tua menyampaikan kesenangan anaknya yang berganti-ganti. Awalnya taekwondo, berubah sepak bola, terakhir sepatu roda. Dia kesulitan menebak sebenarnya apa bakat anak.

Bakat berbeda dengan minat. Kalau minat kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu yang timbul baik dari dalam diri maupun pengaruh luar. Bakat lebih ke potensi yang dibawa sejak lahir. Anak berbakat di matematika akan menyenangi mapel tersebut dan ketika diajari akan lebih cepat paham dan berprestasi dibanding yang lain.

Sinyal positif itulah yang hendaknya ditangkap. Tiap anak memiliki kecenderungan jenis kecerdasan tertentu. Kecerdasan tidak dibatasi oleh sekedar tes – tes formal karena setelah diteliti kecerdasan sifatnya dinamis dan berkembang.  Tugas guru dan orang sebagai pendidik menemukan kecenderungan itu melalui proses pencarian kecerdasan dan bakat. Menggali keluarbiasaannya dan mengubur ketidakberdayaannya.

Bagaimana membimbing anak menemukan potensi unggulnya? Ayah Edi (2014) seorang konsultan parenting dan penggagas Strong from Home memberikan lima langkah konkret. Pertama, menyusun progam stimulasi. Anak dikenalkan beragam profesi dengan membaca buku, mengunjungi pameran, museum, menonton film, mengundang tokoh profesi

Kedua, membuat daftar minat dan bakat. Mengumpulkan berbagai aktivitas atau bidang yang diminati anak kemudian anak memberikan penilaian atau skor pada bidang yang paling diminati.

Langkah ketiga, mengujicoba bakat dan minat anak. Jika anak sudah tertarik pada suatu aktivitas tertentu bisa kita uji dengan mengikutkan kursus, membelikan peralatan pendukung. Apakah ia makin berminat dan tekun berlatih?

Keempat, penajaman profesi.  Misalnya bila anak tertarik pesawat, pesawat apa yang lebih ia suka? Pesawat tempur atau komersil. Kemudian aspek apa yang ia sukai dari pesawat. Apakah tertarik pada desainnya, engineering atau manajemennya ?

Langkah kelima, membuat rencana hidup (make a life plan). Life plan ibarat peta yang akan membimbing anak untuk sampai tujuan. Misal targetnya apa, ditahun berapa cita-citanya ingin diraih, bagaimana prosesnya. Selanjutnya untuk memastikan perjalanan sukses anak berjalan baik, dilakukan review berkala bulanan sampai tiap akhir tahun.

Beda Bakat, Sama Mulianya

Sekilas kita potret kehidupan generasi terbaik, para sahabat. Ada Zaid bin Tsabit yang menjadi pakar bahasa dan sekretaris negara, Ibnu Abbas ahli tafsir di kalangan para sahabat, Usamah bin Zaid panglima besar penakluk Romawi, Bilal bin Rabah sang penakluk ketakutan, Salman  Al Farisi dikenal kegigihannya mencari kebenaran.

Jika ditelusuri semua jejak para sahabat, kita dapati mereka dari latar belakang suku, golongan, usia dengan kecenderungan watak, bakat, minat yang berbeda. Tapi ada yang menyamakan mereka. Sama mulianya, menonjol amal dan prestasinya terutama di hadapan Allah Swt.

Ada pelajaran dan inspirasi yang bisa kita gali. Biarkanlah anak-anak kita tumbuh dengan keunikan dan kelebihannya masing-masing asalkan iman tetap dipegang, karakter sebagai Muslim tidak hilang. Mempunyai pemahaman pada agamanya denga baik sekaligus bersungguh-sungguh mengamalkan.

Iman yang membuat orientasi hidupnya jelas tak sekedar materi, apalagi menghalalkan segala cara ketika mencari. Pribadi yang hati-hati dalam mengisi hidup karena ia yakin sekecil apapun amal akan dimntai pertangunggjawaban di yaumul hisab nanti.

Pribadi yang di kala juara tak merasa jumawa, di kala di bawah tak lantas jengah. Sosok yang tak memicingkan mata pada kekurangan sesama. Meski bekas budak, duta nabi untuk mengirim surat ke penguasa langkahnya tetap tegap dan berpercaya tinggi. Apa yang menyebabkan perubahan sedemikian cepat? Iman yang sudah menancap.

Kita belajar dari masa lalu hingga kini yang sedang berlangsung. Kecerdasan, kesempurnaan fisik dan bakat yang banyak belum cukup untuk menjadi sukses dan selamat. Kisah James Siddis dan Christopher Langan dengan IQ di atas 200 hidupnya berakhir tragis. Banyak cerita meski berkekurangan fisik tak menghalangi mereka melebihi yang sempurna. Ada Ahmad Yassin, atau kisahnya Ammar Bugis sang penakluk kemustahilan.

Begitupun banyak orang yang memiliki bakat berlimpah dan kemampuan menakjubkan tetapi gagal mengelola diri sehingga tiada manfaat untuk diri maupun orang lain. Hasil survey The New York Daily News  menjungkirbalikkan citra selebiritis Holllywood yang konon multitalent dengan satu pertanyaan : siapa selebritis terdungu Hollywood? Hasilnya 50 artis diantaranya Lindsay Lohan, Britney Spears, Mel Gibson dengan alasan responden, arah dan gaya hidup yang kacau hingga obat-obatan.

Ketundukan dan kepatuhan pada Allah Swt menjadi pengiring wajib kecerdasan, bakat dan potensi unggul anak kita. Sebagaimana para bintang senantiasa bersujud pada penciptanya.

Sebagaiman petunjuk Allah Swt melalui kisah Nabi Yakub menjelang kematiannya. “Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS 2 : 133)

Jalan melejitkan para bintang yang bersujud tentunya dengan kesedian kita untuk membersamai mereka dengan keteladanan kebaikan, mendekatkan mereka pada agama dan para alim ulama. Dan, menyediakan lingkungan pendidikan yang subur baik rumah dan sekolah untuk menyemai benih keimanan, kecerdasan dan keberbakatan. ( Sudrajat )

Diposkan oleh pada tanggal 13 Jan 2017. Dalam kategori Artikel. 40 views. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry
HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com