DOWNLOAD BUKU

Motivasi Hari Ini

"Nikmat sehat akan terasa jika kita pernah sakit. Nikmat harta akan terasa jika kita pernah susah, dan nikmat hidup akan terasa jika kita pernah mendapatkan musibah. Musibah adalah awal dari kenikmatan hidup... Bahagianya hidup dengan manisnya iman dan menjadikan allah sebagai tujuan hidup."

"Hidup juga perjuangan. Setiap kita akan dinilai dari apa yang telah kita perjuangkan.. Apa yang sudah kita perjuangkan selama ini?."

Program Level

1| 2| 3| 4| 5| 6|

Tugas Online

Link Pendidikan

Pengunjung

0249
Visit Today : 1
Visit Yesterday : 1
Total Visit : 249
Who's Online : 1

Menjadi Pendidik Mushlih

quraan

Oleh : Alex Nanang Agus Sifa

(Kepala SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto)

 

Pendidik merupakan unsur utama dalam keseluruhan proses pendidikan khususnya di tingkat insitusional dan instruksional. Tanpa pendidik yang mumpuni, sebuah proses pendidikan hanya akan menjadi slogan semata, dikarenakan memang, seluruh  proses pembelajaran dan kegiatan yang ada di sekolah bermuara pada pendidiknya.

Untuk itu benarlah jika dalam sebuah kata bijak Arab dikatakan “Inna al-maadah muhimmah, wath-thariqoh ahammu min al-maadah, wal-mudarris ahammu min ath-thariqoh nafsiha.” Secara umum, makna dari kata bijak tersebut adalah bahwa “materi itu penting, tapi cara penyampaian materi itu lebih penting, dan pendidik yang menyampaikan materi jauh lebih penting.”

Adapun tujuan dari adanya pendidikan tidak lain adalah untuk mencetak manusia unggul, berbudi pekerti tinggi, berkarakter dan bermanfaat. Dimana dalam rangka mencapai tujuan tersebut dibutuhkan kerja sama semua pihak di lingkungan pendidikan, dari mulai pendidik, peserta didik sampai orang tua.

Keberhasilan pendidikan akan sangat ditentukan oleh ketiga pihak tersebut, terlebih kemampuan atau kualitas pendidiknya. Untuk itulah artikel singkat ini akan membahas mengenai pendidik yang merupakan subyek pendidikan.

 

Pendidik Shalih dan Pendidik Mushlih

Jika merujuk pada asal kata Arabnya, shalih, secara bahasa diambil dari kata  “shalaha” bermasdhar “shalahan” yang artinya “jayyid” atau baik. Lawan kata dari shalih adalah “fasid” yang bermakna rusak. Dalam kamus lisanul ‘arab, dikatakan “rajulun shalihun fi nafsihi” artinya seorang yang baik dalam dirinya.

Adapun istilah mushlih berasal dari kata “ashlaha” yang berarti memperbaiki, lawan katanya adalah “afsada” yang bermakna merusak. Dalam kamus lisnul ‘arab dikatakan “ashlaha asy syaia ba’da ifsadihi” yang artinya memperbaiki sesuatu setelah rusaknya.

Jadi, dapat diartikan bahwa, jika pendidik shalih lebih menekankan pada kebaikan untuk dirinya, maka pendidik yang mushlih menekankan pada dua aspek sekaligus, yaitu dirinya dan orang lain atau lebih khususnya para peserta didiknya.

Dari pengertian tersebut, seorang pendidik yang memiliki karakter mushlih berarti dia bukan hanya baik untuk dirinya (jayyid linafsihi) akan tetapi juga baik untuk orang lain (jayyid lighoirihi). Dengan demikian, seorang pendidik yang mushlih adalah dia yang bisa berbuat baik untuk dirinya dan juga orang lain. Artinya, pendidik yang mushlih adalah pendidik yang selalu memberikan kebaikan dan berbuat terbaik untuk para peserta didiknya.

Dalam rangka menebarkan kebaikan melalui pendidikan, seorang pendidik harus memulai terlebih dahulu dari pribadi dirinya sendiri yang shalih. Sebagai pribadi yang shalih, pendidik merupakan perwujudan diri dengan seluruh keunikan karakteristik islami yang sesuai dengan posisinya sebagai pemangku profesi kependidikan. Kepribadian shalih merupakan landasan utama bagi perwujudan diri sebagai pendidik.

Hal ini mengandung makna bahwa seorang pendidik harus mampu mewujudkan pribadi yang baik sebagai teladan. Untuk itu, dia harus mengenal dan memperbaiki dirinya sendiri dan mampu mengembangkannya ke arah terwujudnya pribadi yang pantas menjadi cerminan, teladan, bermanfaat, sehat dan paripurna atau fully functioning person.

Sejalan dengan itu, setelah memulai dengan men-shalih-kan dirinya, maka seorang pendidik yang mushlih akan melakukan tugas-tugas kinerja pendidikan keteladanan dalam bentuk bimbingan, pengajaran, dan latihan-latihan. Dan semua kegiatan itu sangat terkait dengan upaya pengembangan para peserta didik melalui keteladanan, penciptaan lingkungan pendidikan yang kondusif, membimbing, mengajar, dan melatih para peserta didik.

Secara garis besar, peran-peran pendidik yang mushlih dapat dijabarkan sebagai berikut: pemberi keteladanan, pembelajar, pemimpin, manajer, dan pengarang. Sebagai pemberi keteladanan, pendidik menunjukkan jati dirinya dalam bentuk kebaikan-kebaikan, sehingga apa yang dilihat, didengar dan dirasakan oleh para peserta didik adalah kebaikan. Sebagai pembelajar, pendidik secara terus menerus belajar dalam rangka mengembangkan kemampuan dirinya dan menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Sebagai pemimpin, pendidik menjadi seseorang yang menggerakkan peserta didik dan orang lain untuk mewujudkan perilaku pembelajaran yang efektif. Sebagai manajer, pendidik mengelola keseluruhan kegiatan pembelajaran dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran. Dan sebagai pengarang, pendidik secara kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugasnya.

Jadi, sekali lagi, keberhasilan sebuah pendidikan tidak bisa terlepas dari kualitas pendidik yang ada di dalamnya. Artinya, faktor kualitas pendidik sangat mempengaruhi hasil atau input terhadap peserta didik. Dan pendidik yang mushlih berarti dia akan terus menjadi manusia pembelajar serta semangat mengajarkan kebaikan-kebaikan bagi para peserta didiknya. “No teacher no education, no education no economic and social development,” arti umumnya, seorang pendidik menjadi titik sentral dan awal dari semua pembangunan ekonomi dan sosial. Wallahu a’lam bish shawwab.

 

Diposkan oleh pada tanggal 10 Apr 2015. Dalam kategori Artikel. 38 views. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry
HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com