DOWNLOAD BUKU

Motivasi Hari Ini

"Nikmat sehat akan terasa jika kita pernah sakit. Nikmat harta akan terasa jika kita pernah susah, dan nikmat hidup akan terasa jika kita pernah mendapatkan musibah. Musibah adalah awal dari kenikmatan hidup... Bahagianya hidup dengan manisnya iman dan menjadikan allah sebagai tujuan hidup."

"Hidup juga perjuangan. Setiap kita akan dinilai dari apa yang telah kita perjuangkan.. Apa yang sudah kita perjuangkan selama ini?."

Program Level

1| 2| 3| 4| 5| 6|

Tugas Online

Link Pendidikan

Pengunjung

8068
Visit Today : 13
Visit Yesterday : 50
Total Visit : 8068
Who's Online : 1

MBS di SD Al Irsyad 01

 

WhatsApp Image 2017-10-14 at 16.01.02

A. Pendahuluan
Salah satu aspek yang berfungsi dan berperan dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas adalah pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan memiliki peran strategis untuk menciptakan SDM yang berkualitas. Namun demikian, pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan masyarakat. Salah satu permasalahannya adalah rendahnya kualitas proses dan hasil pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan yang ada. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Salah satunya adalah dengan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang dalam praktiknya lebih dikenal sebagai Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Secara umum,MPMBS diartikan sebagai model manajemen yang memberi otonomi yang lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional (Nurkolis, 2003:9).
Secara konseptual MBS atau MPMBS dipahami sebagai salah satu alternatif pilihan formal untuk mengelola struktur penyelenggaraan pendidikan yang terdesentralisasi dengan menempatkan sekolah sebagai unit utama peningkatan. Konsep ini menempatkan redistribusi kewenangan para pembuat kebijakan sebagai elemen paling mendasar, untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan. Pada sisi ini MBS merupakan cara untuk memotivasi kepala sekolah untuk lebih bertanggung jawab terhadap kualitas peserta didik. Untuk itu sudah seharusnya kepala sekolah mengembangkan program-program kependidikan secara menyeluruh untuk melayani segala kebutuhan peserta didik di sekolah (A. Malik Fadjar, 2002:xv-xvi). Lebih lanjut dikemukakan, semua personel sekolah harus berperan serta merumuskan program yang lebih operasional, karena merekalah pihak yang paling mengetahui akan kebutuhan peserta didiknya.
Di Indonesia, pendekatan MBS di samping diposisikan sebagai alternatif, juga sebagai kritik atas penyelenggaraan pendidikan yang selama ini tersentralisasi. Pendidikan sentralistis tidak mendidik manajemen sekolah untuk belajar mandiri, baik dalam hal manajemen kepemimpinan maupun dalam pengembangan institusional, pengembangan kurikulum, penyediaan sumber belajar, alokasi sumber daya dan terutama membangun partisipasi masyarakat untuk memiliki sekolah. Peningkatan pengaruh sekolah, perlu dukungan para stakeholder yang meliputi pemerintah daerah, komite sekolah (kepala sekolah, guru, orang tua siswa, dan tokoh masyarakat), serta siswa. Pengambilan putusan bersama di kalangan stakeholder pada level sekolah merupakan kunci utama dalam melaksanakan MBS (A. Malik Fadjar, 2002:xvi).
Kekuatan manajemen pendidikan diarahkan untuk lebih memberdayakan sekolah sebagai unit pelaksanaan terdepan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Hal ini dimaksudkan agar sekolah lebih mandiri dan bersikap kreatif, dapat mengembangkan iklim kompetitif antarsekolah di wilayahnya, serta bertanggung jawab terhadap stakeholders pendidikan, khususnya orang tua dan masyarakat yang di era otonomi ini akan menjadi dewan sekolah. Dalam pelaksanaannya, manajemen pendidikan harus lebih terbuka, accountable, mengoptimalkan partisipasi orang tua dan masyarakat, serta dapat mengelola semua sumber daya yang tersedia di sekolah dan lingkungannya untuk digunakan seluas-luasnya bagi peningkatan prestasi siswa dan mutu pendidikan pada umumnya (Indra Djati Sidi, 2001: 19-20)
Pelaksanaan MBS secara efektif dan efisien menuntut seorang kepala sekolah yang memiliki pandangan luas tentang sekolah dan pendidikan. Wibawa kepala sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian, semangat belajar, disiplin kerja, keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. Kepala sekolah dituntut untuk melakukan fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar, dengan melakukan supervisi kelas, membina, dan memberikan saran-saran positif kepada guru. Di samping itu, kepala sekolah juga harus melakukan tukar pikiran, sumbang saran, dan studi banding antarsekolah untuk menyerap kiat¬-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah lain.
Pelaksanaan MBS juga menuntut guru untuk berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. Guru adalah teladan dan panutan langsung peserta didik di kelas. Oleh karena itu, guru perlu siap dengan segala kewajiban, baik manajemen maupun persiapan isi materi pelajaran. Guru juga harus mengorganisasikan kelasnya dengan baik mulai jadwal pelajaran, pembagian tugas peserta didik, kebersihan dan ketertiban kelas, pengaturan tempat duduk peserta didik dan penempatan media pembelajaran pada tempatnya.
Pada sisi lain, pelaksanaan MBS yang ideal harus sesuai dengan karakteristik MBS dan harus melalui tahap¬-tahap pelaksanaan MBS. Perencanaan dan persiapan yang baik dalam pelaksanaan MBS akan membantu keberhasilan program tersebut. Hal itu akan menghasilkan mutu pendidikan yang semakin baik, ada kepedulian warga sekolah dan tanggung jawab sekolah pun akan semakin meningkat.
B. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah
Manajemen berbasis sekolah memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. Sekolah yang ingin berhasil dalam menerapkan manajemen berbasis sekolah harus memiliki karakteristik. Dalam buku Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (2002:11) dikemukakan karakteristik manajemen berbasis sekolah:
1. Output yang Diharapkan
SD Al Irsyad 01 memiliki harapan output yang terbaik yang dihasilkan oleh proses sekolah tertuang dalam jaminan mutu sekolah.
2. Proses
a. Efektifitas Proses Belajar Mengajar yang Tinggi
SD Al Irsyad 01 memiliki efektifitas proses belajar mengajar tinggi, hal ini ditunjukkan pada proses belajar mengajar yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik, pendekatan humanism dan kerjasama/komunikasi antar wali murid yang kuat melalui program homevisit ke setiap siswa.
b. Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Kuat
SD Al Irsyad 01 memiliki Kepala sekolah yang berperan kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. Terbukti dari kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah berjalan dengan lancer dan sukses, walaupun kepanitian setiap kegiatan berganti-ganti personilnya.
c. Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib
SD Al Irsyad 01 memiliki lingkungan yang aman, tertib dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan efektif.
d. Pengelolaan Tenaga Kependidikan yang Efektif.
Setiap guru merupakan jiwa dari sekolah. Pengelolaan tenaga kependidikan mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kerja, hingga dari imbalan jasa merupakan peran penting bagi kepala sekolah, terlebih pada pengembangan tenaga kependidikan. SD Al Irsyad 01 mengembangkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan setiap pecan dengan halaqoh/kajian rohani, setiap pecan dengan KKG sesuai level kelasnya, setiap semester dengan pelatihan-pelatihan dan motivasi dari nara sumber lokal dan nasional
e. Sekolah Memiliki Budaya Mutu
Budaya mutu tertanam di sanubari semua warga sekolah, sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh profesionalisme. Budaya tersebut disosialisasikan minimal setiap pecan sekali saat rapat sabtuan yang dilaksanakan di aula SD Al Irsyad 01 gedung 1.
f. Sekolah Memiliki Team Work” yang Kompak, Cerdas dan Dinamis
SD Al Irsyad 01 senantiasa membentuk team work yang solid di setiap kegiatan atau kepanitian termasuk manajemen yang membawahi tiap jenjang kelas harus berkomunikasi lewat rapat langsung, WA ataupun surat.
g. Sekolah Memiliki Kewenangan/Kemandirian
SD Al Irsyad 01 menerapkan kemandirian dalam mengatur jam kerja selama sepekan berbeda dengan sekolah SD pada umumnya. Kedatangan maksimal pukul 06.45 dan kepulangan minimal pukul 15.00.
h. Partisipasi Warga Sekolah dan Masyarakat
SD Al Irsyad 01 senantiasa mengikutsertakan masyarakat dalam berbagai kegiatan lomba seperti jalan sehat open house, bakti sosial, doa bersama anak yatim, Idul Qurban dll.
i. Sekolah Memiliki Keterbukaan (Transparansi) Manajemen
SD Al Irsyad 01 secara rutin melaporkan APBS kepada komite dan masyarakat, selain itu orang tua bisa mengakses keuangan setiap saat melalui bendahara sekolah.

j. Sekolah Memiliki Kemampuan untuk Berubah
SD Al Irsyad 01 secara rutin melakukan perubahan diharapkan hasilnya lebih baik dari sebelumnya terutama mutu peserta didik.
k. Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan
SD Al Irsyad 01 melakukan evaluasi setiap pekan minimal dua kali dalam sepekan yaitu saat rapaat manajemen hari Senin dan Jumat, serta rapat sabtuan secara general bersama seluruh SDM.
l. Sekolah Responsif dan Antisipasif Terhadap Kebutuhan
Sekolah selalu membaca lingkungan dan menanggapinya secara cepat dan tepat.
m. Sekolah Memiliki Komunikasi yang Baik
SD Al Irsyad 01 memiliki komunikasi yang baik antar warga sekolah dan antar sekolah masyarakat, dibuktikan dengan dibuatnya grup Whattapps pada setiap kelas, antar guru, antar manajemen dan antar komite sekolah
n. Sekolah Memiliki Akuntabilitas
SD Al Irsyad 01 secara rutin melaporkan program kepada yayasan maupun kepada komite setiap akhir tahun pelajaran sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada umat.
o. Sekolah Memiliki Suistainabilitas
Sekolah yang efektif memiliki kemampuan untuk menjaga kelangsungan hidupnya (suistainabilitas) tinggi karena di sekolah terjadi proses akumulasi peningkatan mutu sumber dana, pemilikan aset sekolah yang mampu menggerakkan income generating activities dan dukungan yang tinggi dari masyarakat terhadap eksistensi sekolah.

3. Input Pendidikan
a. Memiliki Kebijakan Mutu
SD Al Irsyad 01 memiliki standar mutu yang tertera pada “Jaminan Mutu Lulusan”. Kebijakan mutu tersebut disosialisasikan kepada semua warga sekolah.
b. Sumber Daya Tersedia Lengkap
Sumber daya yang memadai akan menghasilkan pencapaian sasaran sekolah seperti yang diharapkan.
c. Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi
SD Al Irsyad 01 memiliki staf yang mampu dan berdedikasi tinggi terhadap sekolah dengan kualifikasi akademik minimal D3.
d. Memiliki Harapan Prestasi yang Tinggi
SD Al Irsyad 01 memiliki dorongan dan harapan yang tinggi untuk meningkatkan prestasi peserta didik dan sekolahnya yaitu dengan mengadakan bina prestasi OSN, Matematika, Pramuka, Tahfidz, B. Inggris dll
e. Fokus pada Pelanggan
SD Al Irsyad 01 senantiasa memfokuskan semua kegiatan sekolah kepada siswa dan orang tua sebagai pelanggan utama, antara lain : out door study, parenting, tartili for parent, mengundang tokoh, outbound, family day, family gathering, bakti social dll

4. Input Manajemen
Kepala sekolah dalam mengatur dan mengurus sekolahnya menggunakan sejumlah input manajemen. Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan membantu kepala sekolah untuk mengelola sekolahnya dengan efektif. Hal ini sejalan dengan konsep yang dikemukakan dalam Buku Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (2002:3) dimana disebutkan bahwa jika sekolah ingin sukses melaksanakan manajemen berbasis sekolah, maka sekolah perlu memiliki karakteristik manajemen berbasis sekolah.
SD Al Irsyad 01 memilki sistem yang khas untuk menjadi manajemen, yaitu melalui pengamatan kinerja oleh yayasan secara umum tanpa melihat SDM senior maupun yunior apanila secara kinerja, dedikasi dan komitmen terhadap sekolah tinggi, maka SDM tersebut bisa diangkat menjadi manajemen.
C. Tahap-tahap Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah
Dalam buku Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (2002:29) tahap-tahap yang harus dilakukan dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah sebagai berikut:
1. Melakukan Sosialisasi
Sekolah merupakan sistem yang terdiri dari unsur-unsur, semua unsur sekolah harus memahami konsep manajemen berbasis sekolah. Langkah pertama yang harus dilakukan oleh sekolah adalah mensosialisasikan konsep tersebut kepada setiap unsur sekolah mulai guru, siswa, wakil kepala sekolah, guru BK, karyawan, orangtua siswa, pengawas, pejabat dinas pendidikan kabupaten atau propinsi dan sebagainya. Bentuk sosialisasi melalui berbagai mekanisme, misalnya seminar, diskusi dan sebagainya.
2. Mengidentifikasi Tantangan Nyata Sekolah
Sekolah melakukan analisis output sekolah yang hasilnya berupa identifikasi tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah.
3. Merumuskan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Sekolah (Tujuan Situasional Sekolah)
Sekolah yang melaksanakan manajemen berbasis sekolah harus memiliki rencana pengembangan sekolah yang pada ummnya berupa perumusan visi, misi,tujuan dan strategipelaksanaannya.
4. Mengidentifikasi Fungsi-fungsi yang Diperlukan untuk Mencapai Sasaran
Fungsi-fungsi ini antara lain fungsi proses belajar mengajar beserta fungsi¬fungsi pendukungnya yaitu fungsi pengembangan kurikulum, fungsi ketenagaan, fungsi keuangan, fungsi layanan kesiswaan, fungsi pengembangan fasilitas, fungsi perencanan dan evaluasi, dan fungsi hubungan sekolah dan masyarakat.
5. Melakukan Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat)
Artinya tingkat kesiapan harus memadai, minimal memenuhi ukuran kesiapan yang diperlukan untuk memenuhi ukuran kesiapan yang dinyatakan sebagai kekuatan (strength), peluang(opportunity), kelemahan (weakness) dan ancaman (threat).
6. Alternatif Langkah Pemecahan Persoalan.
Memilih langkah pemecahan persoalan yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap.
7. Menyusun Rencana dan Program Peningkatan Mutu.
Sekolah bersama-sama dengan semua unsurnya membuat perencanaan beserta program untuk merealisasikan rencana tersebut.
8. Melaksanakan Rencana Peningkatan Mutu.
Sekolah bersama warga sekolah hendaknya mengambil langkah proaktif untuk mewujudkan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.
9. Melakukan Evaluasi Pelaksanaan.
Sekolah perlu mengadakan evaluasi pelaksanaan untuk mengetahui tingkat keberhasilan program.
10. Merumuskan Sasaran Mutu.
Hasil evaluasi berguna untuk dijadikan sebagai alat bagi perbaikan kinerja program yang akan datang. Hasil evaluasi juga merupakan masukan bagi sekolah dan orang tua peserta didik berguna untuk merumuskan sasaran mutu baru untuk tahun yang akan datang.
Kesimpulan yang diperoleh dari uraian diatas adalah pelaksanaan manajemen berbasis sekolah harus melalui tahap-tahap yang urut dan berkesinambungan. Keberhasilan melalui tahap-tahap ini akan membantu pencapaian keberhasilan program. Secara umum SD Al Irsyad 01 telah mengikuti tahapan-tahapan MBS, sehingga kami berharap kedepan semakin maju dan maju lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Masaong, Abdul Kadim.dan Ansar. 2011. Manajemen Berbasis Sekolah. Cetakan III. Malang: Sentra Media.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi IV. Rineke Cipta.
Bogdan, Robert C. dan Sari Knopp Biklen. 1998. Qualitative Research for Education.Boston: Allyn and Bacon, Inc.

Candoli. 1995. Site-Based Management in Education:How to Make It Work in Your School. Lancaster: Technomic Publishing Co.

Duhou, Ibtisam Abu. 2002. School-Based Management. Penerjemah Noryamin Aini, dkk. Jakarta: Logos.

Fadjar, A. Malik. 2002. Kata Pengantar dalam Ibtisam Abu Duhou. 2002. School-Based Management. Penerjemah Noryamin Aini, dkk. Jakarta: Logos

Moleong, Lexy J. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2002 Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi, dan Implementasi. Jakarta: Remaja Rosdakarya.

Nasution, S. 1996. Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung : Tarsito.
Nawawi, Hadari. 1991. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nurkolis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah: Teori, Model, dan Aplikasi. Jakarta: Grasindo.
Sahertian, A Piet. (1994). Profil Pendidik Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Sidi, Indra Djati. 2001. Menuju Masyarakat Belajar Menggagas Paradigma Baru Pendidikan). Jakarta: Paramadina.

Soewadji Lazaruih. 1987. Kepala Sekolah Dan Tanggung jawabny. Salatiga : Kanisius.
Usman, Moh. Uzer. 1992. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Diposkan oleh pada tanggal 14 Oct 2017. Dalam kategori Artikel. 55 views. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry
HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com