DOWNLOAD BUKU

Motivasi Hari Ini

"Nikmat sehat akan terasa jika kita pernah sakit. Nikmat harta akan terasa jika kita pernah susah, dan nikmat hidup akan terasa jika kita pernah mendapatkan musibah. Musibah adalah awal dari kenikmatan hidup... Bahagianya hidup dengan manisnya iman dan menjadikan allah sebagai tujuan hidup."

"Hidup juga perjuangan. Setiap kita akan dinilai dari apa yang telah kita perjuangkan.. Apa yang sudah kita perjuangkan selama ini?."

Program Level

1| 2| 3| 4| 5| 6|

Tugas Online

Link Pendidikan

Pengunjung

0220
Visit Today : 1
Visit Yesterday : 1
Total Visit : 220
Who's Online : 1

Budaya Membaca

Budaya Membaca, Tanggung Jawab Bersama
22497016_1891118964238528_514533117_o

Hidup di zaman modern yang penuh dengan fasilitas dan serba canggih memang sangat melenakan. Kita dimanjakan oleh berbagai peralatan dari yang dapat digunakan untuk memudahkan pekerjaan sampai yang menyajikan hiburan. Setelah satu pekerjaan dengan cepat selesai, berikutnya kita akan berpindah ke pekerjaan yang lain. Begitu seterusnya. Sajian hiburan tersedia sangat banyak. Mungkin bisa dikatakan overload. Banjir. Serasa tidak cukup waktu sehari semalam dilewatkan dengan bermain game online, menonton film di youtube, atau bahkan bersenda gurau dengan teman lama ataupun baru di facebook, whatsapp, instagram, dan media sosial yang lain.
Orang dewasa yang sebenarnya dianggap sudah mampu membagi waktu saja bisa terjebak dalam kondisi seperti itu. Apalagi anak-anak yang masih membutuhkan arahan. Akhirnya, keduanya sama-sama mencurahkan waktu dan perhatian kepada dunia ‘menyenangkan’ dan mulai meninggalkan hal-hal yang dianggap ‘tidak menyenangkan’ seperti membaca.
Sementara, perlu disadari bahwa kemajuan suatu bangsa juga bergantung kepada sumber daya manusianya yang cerdas dan memiliki pengetahuan yang luas. Salah satu cara untuk menjadi cerdas dan berpengetahuan luas adalah dengan membaca. Bagi umat Islam, membaca berarti melaksanakan salah satu perintah Allah yang tertulis dalam Al Quran, Surat Al Alaq: 1 – 5.
Membaca merupakan bagian dari kegiatan komunikasi manusia selain mendengarkan, berbicara, dan menulis. Kegiatan komunikasi pertama yang dilakukan manusia adalah mendengarkan dan berbicara. Saat seorang bayi lahir ke dunia, orang tuanya mengajarkan cara berkomunikasi. Ibunya berbicara tentang banyak hal, sementara sang bayi membiasakan telinganya terhadap bunyi-bunyian. Saat ia tumbuh, orang-orang di sekitarnya mengajarkan cara mengucapkan kata-kata sehingga ia bisa meniru untuk berbicara.
Sebagaimana halnya dengan mendengarkan dan berbicara, orang tua atau keluarga juga memiliki andil dalam mengajarkan komunikasi dalam bentuk yang lain (membaca dan menulis). Kegiatan membaca dan menulis perlu diajarkan sedini mungkin seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Peran keluarga dalam pembiasaan membaca akan membentuk anak-anak menjadi manusia-manusia yang gemar membaca; setidaknya akrab dengan bahan bacaan.

Dongeng sebelum tidur
Anak-anak sangat menyukai dongeng. Bagi anak yang belum bisa membaca, orang tua dapat mendongeng untuknya. Ini adalah kesempatan bagi orang tua untuk mengenalkan buku kepada mereka. Sambil mendengarkan dongeng, anak dapat berinteraksi dengan buku.
Satu hal yang perlu diingat oleh orang tua adalah memilihkan dongeng yang bermanfaat bagi perkembangan mental dan spiritual anak. Orang tua juga sebaiknya menghindarkan anak dari dongeng yang khayal, seram, dan yang menjauhkan anak dari Sang Pencipta.

Pergi ke Toko Buku/ Perpustakaan Daerah
Meluangkan waktu untuk pergi ke toko buku atau perpustakaan memberikan wawasan kepada anak bahwa terdapat beragam jenis buku dan anak dapat memilih untuk membaca atau membeli sesuai dengan seleranya. Berawal dari memilihi buku yang ia senangi, selanjutnya ia akan penasaran dengan buku lain yang belum pernah dibacanya.

Memiliki Perpustakaan di Rumah
Benda-benda yang kita miliki di rumah turut mempengaruhi aktivitas kita. Bagi keluarga yang hanya memiliki televisi, anak-anak akan menontonnya saat waktu luang. Dengan menghadirkan perpustakaan di rumah akan memberikan pilihan aktivitas bagi anak saat televisi tidak lagi dapat memuaskan mereka.
Orang tua juga dapat membantu mengalihkan perhatian anak dari televisi dengan membuat aturan mematikan televisi pada jam-jam tertentu sehingga anak maupun orang tua dapat mengisi waktu tersebut dengan membaca buku. Setelah kegiatan membaca selesai, sebaiknya anak diajak berdialog tentang isi buku yang dibacanya. Ini akan melatih anak untuk mengekspresikan apa yang dia pikirkan dan rasakan. Sebaiknya juga orang tua menunjukkan antusiasme ketika mendengarkan cerita anak. Anak akan merasa dihargai sehingga ia akan melakukannya lagi dan lagi.
Supaya perpustakaan di rumah menarik, orang tua dapat menyediakan buku-buku yang beraneka ragam dan atau mendesain perpustakaan rumah supaya nyaman sehingga anak betah berlama-lama di sana. Bagi orang tua yang memiliki anak balita, mereka tak perlu mengkhawatirkan buku yang sobek. Sekarang sudah tersedia buku yang terbuat dari kain flanel di toko yang dirancang sesuai dengan perkembangan usia anak balita.

Hadiah
Cara lain untuk merangsang anak supaya dekat dengan bacaan adalah memberinya hadiah berupa buku. Kebahagiaan yang dirasakan ketika menerima pemberian dari orang lain akan mengikat benda yang diberikan ke hati penerimanya. Orang tua dapat memilih buku sebagai alternatif benda yang diberikan kepada anak ketika anak mendapatkan prestasi tertentu; atau bisa juga sekadar pemberian sebagai wujud perhatian dan kasih sayang. Tentunya buku yang dihadiahkan kepada anak disesuaikan dengan tingkatan usia dan karakter anak.

Keteladanan orang tua
Mendidik dengan keteladanan adalah cara paling ampuh untuk mengajarkan perilaku kepada anak. Anak-anak mengamati kehidupan orang dewasa. Mereka menirukan cara bertutur kata, bersikap, dan bertingkah laku. Jika orang tua menginginkan anaknya gemar membaca, maka mereka harus menjadi teladan terlebih dahulu.

Tatkala anak memasuki bangku sekolah, orang tua dapat berbagi peran dengan guru dalam pembiasaan membaca. Guru juga mempunyai tanggung jawab yang sama besar sebagaimana orang tua yang harus mendidik anak-anaknya untuk dapat berkomunikasi dengan baik.

Kegiatan Literasi dalam PBM
Buku ajar tak pernah lepas kaitannya dengan proses belajar mengajar. Di dalam buku ajar terdapat berbagai materi yang dipelajari siswa. Kalau toh ternyata di dalam buku ajar tidak banyak memuat materi, setidaknya ada beberapa catatan yang dibuat oleh guru di papan tulis yang dapat dibaca siswa. Pun guru juga dapat menyediakan sumber bacaan buatan sendiri atau yang didapatkan dari berbagai sumber (potongan koran, halaman situs internet, dll.). Apa pun caranya, yang penting siswa dapat membaca.

Mengunjungi Perpustakaan Sekolah
Sebagaimana perpustakaan di rumah, perpustakaan sekolah pun juga harus didesain sedemikian rupa agar anak-anak tertarik untuk berkunjung; lebih-lebih untuk membaca atau meminjam buku. Keanekaragaman buku akan memberikan banyak pilihan bagi anak; disesuaikan dengan jenis kelamin, usia, hobi, dsb. Pengaturan rak buku, pemilihan mebeler, warna cat tembok, tulisan di dinding, bahkan keramahan petugas perpustakaan menjadi daya tarik bagi anak-anak. Apalagi jika disediakan hadiah bagi pengunjung perpustakaan yang rutin datang untuk membaca atau meminjam buku. Anak akan merasa ketagihan.
Kunjungan ke perpustakaan juga bisa dijadikan program kelas demi menciptakan kondisi agar anak dekat dengan buku.Guru memberikan tugas berupa kegiatan membaca dan menceritakan kembali isi buku yang dibaca. Kegiatan dapat dilakukan dengan bercerita di depan kelas atau menulis di buku tulis bagi anak yang lebih besar. Kegiatan ini membantu anak untuk mengekspresikan dirinya.

Keteladanan Warga Sekolah
Lagi-lagi keteladanan merupakan cara yang ampuh untuk menularkan perilaku yang baik. Keteladanan warga sekolah dalam membaca akan menginspirasi anak-anak untuk ikut membaca. Seluruh civitas akademik: guru, kepala sekolah, bahkan penjaga sekolah harus menunjukkan perilaku gemar membaca.Tampilan keseharian para orang dewasa ini akan diikuti jejaknya oleh anak-anak.

Kerja Sama Guru dan Orang Tua
Tiga pilar pendidikan (orang tua, guru, dan masyarakat) harus bersinergi jika suatu program pendidikan diharapkan untuk sukses. Paling tidak dua pilar pertama harus dapat berjalan efektif. Pembiasaan membaca pun demikian. Guru dan orang tua dapat bekerja sama dalam membiasakan anak membaca di mana pun dan kapan pun. Pemberian tugas membaca di rumah dapat dilakukan dengan bantuan kontrol dari orang tua. Orang tua di rumah mengondisikan anaknya untuk memiliki kebiasaan membaca. Pun guru di sekolah menjadikan kegiatan membaca sebagai bagian dari proses belajar mengajar. Jika masing-masing pihak dapat melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik, insya allah akan tercipta generasi yang gemar membaca.

Disusun oleh:
Dewi Nikenti Istirin
Guru di SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto
Jalan Ragasemangsang 24, 27 Purwokerto
53115

Diposkan oleh pada tanggal 14 Oct 2017. Dalam kategori Artikel. 24 views. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry
HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com